
Tanjung Jabung Barat (MAN 1 Tanjung Jabung Barat) - Kegiatan Rohani Islam (Rohis) rutin Jumat kembali dilaksanakan di halaman madrasah 7/8/2026. Pada kesempatan kali ini, kelas XII.2 mendapat amanah sebagai petugas pelaksana yang memandu seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib, khidmat, dan penuh semangat. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara (MC), kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin yang dipimpin oleh petugas dari kelas XII.2. Suasana pagi yang sejuk semakin terasa khusyuk ketika seluruh peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan bersama-sama melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan doa bersama, pembacaan tilawatil Al-Qur'an, serta lantunan shalawat Nabi Muhammad SAW yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh seluruh warga madrasah.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Nur Wahijah, S.Pd., memberikan tausiah yang mengangkat tema pentingnya membangun adab di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus digitalisasi. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya prestasi akademik atau penguasaan ilmu pengetahuan semata, tetapi juga harus diimbangi dengan pembentukan karakter dan akhlak mulia.
"Di era sekarang ini, banyak peserta didik yang begitu bersemangat mengejar ilmu dan prestasi. Namun, jangan sampai kita melupakan adab. Ilmu tanpa adab akan kehilangan keberkahannya. Karena itu, madrasah tidak hanya bertugas mencerdaskan, tetapi juga membentuk manusia yang berakhlakul karimah," ujar Nur Wahijah, S.Pd.
Beliau juga mengajak seluruh peserta didik untuk menjaga lisan, menghormati guru, menyayangi sesama teman, serta bijak menggunakan media sosial agar tidak mudah mengucapkan kata-kata yang dapat melukai hati orang lain.
Puncak kegiatan Rohis pagi ini menjadi momen yang paling menyentuh ketika Nur Wahijah membacakan sebuah puisi reflektif berjudul "Ketika Kata Menjadi Doa", sebuah karya yang ditulisnya sendiri. Dengan pembacaan yang penuh penghayatan, seluruh halaman madrasah seakan larut dalam keheningan. Para peserta didik, majelis guru, hingga tenaga kependidikan tampak menyimak setiap bait demi bait yang disampaikan.
Puisi tersebut mengajak seluruh warga madrasah untuk merenungkan betapa besar kekuatan sebuah kata. Kata-kata yang terucap bukan hanya menjadi suara yang berlalu, tetapi dapat menjadi doa, penyejuk hati, sekaligus penentu arah kehidupan seseorang. Dalam puisinya, Nur Wahijah mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh penampilan luar, melainkan oleh kelembutan akhlak, kesantunan lisan, serta keikhlasan hati.
Melalui bait-bait puisinya, ia juga menyoroti fenomena yang banyak terjadi di kalangan generasi muda, yakni mudahnya menyampaikan ejekan, umpatan, maupun komentar negatif, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Menurutnya, setiap ucapan akan meninggalkan jejak, sehingga lisan harus dijaga sebagaimana menjaga kehormatan diri.
Salah satu pesan yang paling kuat dalam puisi tersebut adalah ajakan untuk menjadikan madrasah sebagai tempat menanam adab, bukan sekadar mengejar nilai. Beliau mengingatkan bahwa kecantikan sejati adalah akhlak, kemuliaan seseorang lahir dari kesederhanaan, dan ilmu akan menjadi cahaya apabila dihiasi dengan kesantunan.
Melalui puisi "Ketika Kata Menjadi Doa", Nur Wahijah juga mengajak peserta didik agar menjaga hubungan dengan Allah SWT, menghormati guru, mencintai sesama, serta membiasakan mengucapkan kata-kata yang baik karena setiap ucapan akan kembali kepada diri sendiri sebagai doa maupun amal.”Humas”



|
422x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Tanjung Jabung Barat dan Sekitarnya
Memuat tanggal...